Kamis, 05 Januari 2017

ILMU PAWANG HUJAN PENINGGALAN LELUHUR

Pawang hujan dianggap lazim dan jasanya diperlukan pada saat akan berlangsungnya upacara hajatan maupun resepsi kenegaraan. Tapi tahukah bagaimana sebenarnya ritual menolak hujan tersebut.
Dalam tradisi adat Jawa, setiap kali masyarakat ingin menggelar suatu hajatan pasti akan diawali dengan berbagai upacara ritual tradisi keselamatan, upacara ini selain sebagai wujud keselamatan bagi yang punya hajat, sekaligus untuk penolak bala.
Dari sekian ritual orang Jawa ada satu ritual yang menarik dan hingga saat ini dilakukan masyarakat Jawa yakni upacara tolak hujan. Upacara ritual ini sebenarnya bukan untuk menolak hujan yang sudah menjadi kodrat alam, melainkan menyingkirkan hujan.
Ritual adat ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun yang silam hingga sekarang kini. Oleh karena itu upacara tolak hujan yang biasa dilakukan oleh pawang hujan menjadi sebuah ritual yang jamak dilakukan di masyarakat kita.
Upacara ini tak hanya dilakukan pada saat upacara adat saja, dalam resepsi pernikahan, acara pemerintahan dan upacara resmi kenegaraan sekalipun ritual tolak hujan biasa dilakukan dengan harapan agar seluruh prosesi rangkaian acara berjalan lancar.
“Upacara ini sudah dikenal sejak dari jaman kesukuan ada di tanah Jawa, atau jaman sebelum peradaban kerajaan terbentuk. Selain tolak hujan upacara ini juga biasa dilakukan pada saat musim kemarau berkepanjangan, atau yang lebih dikenal dengan upacara pemanggilan hujan,” kata Mbah Bujel.
Oleh sebab itu, lanjutnya, hingga saat ini pawang hujan dianggap lazim dan diperlukan untuk dimintai pertolongan pada saat akan berlangsungnya upacara hajatan perseorangan maupun upacara resepsi kenegaraan. Tradisi ini tak hanya dikenal dikalangan masyarakat Jawa saja, hampir di seluruh kesukuan adat di Indonesia budaya tolak hujan sudah lama dikenal.
Dalam budaya Jawa tegas mbah Bujel, upacara tolak hujan bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai cara, diantaranya dengan memakai sesaji, doa dan kekuatan spiritual seorang pawang hujan. Namun yang pasti ketiga kekuatan tersebut disatukan hingga memiliki kekuatan ghaib yang di ucapkan sebagai mantera dengan memohon ridho kepada Tuhan agar hujan bisa disingkirkan.
“Upacara ritual ini sekaligus menjadi wujud rasa syukur kepada seluruh isi alam semesta yang menjadi wujud ke EsaanTuhan, agar alam senantiasa berkenan menyingkirkan mendung,” tambahnya.
Kata dia lagi, keberhasilan suatu doa atau mantera seorang pawang hujan tergantung dari kekuatan spiritual sang pawang hujan, meski dibantu dengan berbagai sesaji tetapi apabila kekuatan spiritual sang pawang hanya biasa biasa saja sulit untuk berhasil menyingkirkan mendung, apalagi jika sudah turun gerimis. “Pawang hujan biasanya akan melakukan puasa terlebih dulu apabila hendak melakukan upacara ritual tolak hujan agar kekuatan spiritualnya benar benar kuat,” papar dia.
Cara menolak hujan
Perlu diketahui, dalam tradisi Jawa dikenal beberapa cara menolak atau menyingkirkan hujan, salah satunya dengan cara mendirikan sapu lidi di tengah tanah lapang sembari menancapkan berbagai macam bumbu dapur.
Beberapa bumbu ini diantaranya adalah bawang merah, lombok, kunyit, jahe dan dlingo bengle. Dengan, masih cerita Mbah Bujel, cara ini mereka percaya mendung akan mampu menyingkir dari tempat diadakanya upacara resepsi.
Selain dengan cara mendirikan sapu lidi di tengah tengah halaman, sesaji komplit juga dilakukan oleh para tokoh spiritual pada saat melakukan upacara ritual tolak hujan.
Sesaji sesaji ini memiliki kekuatan khusus sebagai perantara atau pendorong doa pada saat mantera di ucapkan. Sesaji sesaji yang dipergunakan untuk upacara tolak hujan diantaranya adalah, pisang setangkep, kopi kental, teh manis, gecok bakal, sodo lanang, jajan pasar, ubi ubian, bunga wewangian serta kemenyan madu.
Sesaji ini dipergunakan sebagai salah satu perwujudan rasa syukur kepada Gusti Allah, sekaligus penghaturan selamatan rasa syukur kepada para leluhur agar berkenan membantu menjaga kelancaran upacara resepsi tak terkecuali menyingkirkan hujan.
Penghaturan sesaji kepada para leluhur sudah sejak dari jaman dahulu kala telah dikenal di kalangan masyarakat Jawa, tak hanya dipergunakan pada saat ritual tolak hujan, sesaji sesaji ini juga biasa dilakukan menjelang bulan puasa atau bulan ruwah dalam penanggalan Jawa.
“Rangkaian sesaji menjadi jembatan perantara alam kasad mata dengan para leluhur yang sudah lebih dulu berada di alam kelanggengan,” sergahnya.
Menurutnya, manusia mati hanyalah jasad wadagnya saja yang telah hilang, namun roh orang yang telah mati akan berpindah ke alam pelanggengan yang hidupnya jauh akan lebih lama hingga akhir kehidupan semuanya. Dalam tatanan masyarakat Jawa penghormatan kepada para leluhur yang telah mati sudah mengakar menjadi suatu tradisi budaya.
Karena mendekatkan diri dengan doa dan sesaji kepada para leluhur, masyarakat Jawa percaya para leluhurnya akan membantu serta terus memberikan pepeling agar selalu ingat dan waspada dengan keadaan, namun yang terpenting dari semua ini adalah penghaturan doa pengampunan dosa para leluhur oleh para penerusnya yang masih di beri kesempurnaan untuk hidup, agar para leluhurnya senantiasa mendapatkan tempat yang sempurna disisi Tuhan.
Karenanya, sesaji dalam upacara ritual tolak hujan dan rangkaian sesaji mutlak dilakukan selain doa penyuwunan kepada Tuhan. Sesaji sesaji ini tak sembarang sesaji di persembahkan sebagai rangkaian pelengkap doa, namun sesaji ini memilik makna yang sangat dalam sebagai wujud suatu persembahana agung kepada Tuhan.
Pisang setangkep dimaknai sebagai satu rangkaian pemersatu menyatukan seluruh cipta rasa karsa manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai satu satunya tempat untuk memohon dan meminta. Oleh sebab itu di dalam rangkaian pisang setangkep akan di beri bunga wewangian sebagai salah satu wujud keinginan yang menyatu dalam doa akan membuahkan hasil yang sempurna ibarat bunga.
Sementara, sesaji teh dan kopi serta gecok bakal menjadi simbol bahwa masyarakat Jawa masih terus peduli dengan para leluhurnya. Hal ini sebagai simbol bahwa para leluhurnya dalam mengarungi lautan kehidupan telah merasakan manis dan pahitnya kehidupan seperti kopi dan teh manis, serta masih ditambah lagi dengan liku liku persoalan hidup yang di ibaratkan seperti rangkaian gecok bakal, yang terdiri dari aneka macam syarat pelengkap perjalanan hidup manusia.
Sedangkan rangkaian sesaji polo pendem diantaranya, ketela, ubi, kacang tanah, umbi umbian di wujudkan sebagai bentuk penghaturan rasa terima kasih kepada ibu pertiwi yang telah menganugerahkan hasil bumi yang terus berlimpah ruah. Sesaji sesaji ini dipersembahkan kembali bagi kehidupan ibu bumi demi kelangsungan kehidupan lain ( ghaib) yang juga ada di atas ibu bumi.
Selain rangkaian sesaji tersebut masih ada sesaji lainya yang terdiri dari berbagai macam buah buahan. Sesaji sesaji ini dipersembahkan kepada ghaib sebagai salah satu wujud kebersamaan manusia dan kehidupan alam lain yang terus hidup berdampingan di alam semesta. Masyarakat Jawa sangat meyakini bahwa selain kehidupan umat manusia Tuhan juga telah menciptakan kehidupan lain yang berdampingan dengan manusia namun dalam wujud yang tidak kasad mata. Oleh sebab itu sesaji buah buahan menjadi simbol kebersamaan bebrayan agung di alam semesta.
“Selain sebagai upacara ritual tolak hujan, tradisi ini sekaligus menjadi upacara ritual doa keselamatan dan tolak bala bagi para penduduk,” tegas Mbah Bujel.
Cara lain yang bisa dipakai untuk melakukan upacara tolak hujan yaitu dengan cara meminta pertolongan kepada para penunggu ghaib atau jin, namun harus menggunakan tebusan.
Tebusan atau pembayaran dalam bentuk sesaji ini biasanya mempersembahkan buah buahan segar dan minyak wangi agar jin bersedia menyingkirkan hujan.
Tetapi tak sembarang jin mampu melakukan tolak hujan, jin yang dipakai untuk melakukan ritual ini haruslah jin yang memiliki kekuatan ilmu yang tinggi agar bisa mengerjakan apa yang diminta oleh manusia.

Ilmu kuno
Kedekatan alam ghaib dengan alam semesta dalam wujud yang tak kasad mata membuat jin akan lebih mudah melakukan ritual tolak hujan daripada harus dilakukan oleh manusia yang banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu. Meski manusia tercipta sebagai mahkluk yang paling sempurna, namun kesempurnaan ini seringkali membuat manusia banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu sehingga membuat manusia lupa kepada penciptaNYa.
“Terdapat ilmu kejawen yang bisa dipakai untuk menyingkirkan hujan. Ilmu kuno ini sudah ada sejak dari jaman dulu di kenal dikalangan masayarakat Jawa untuk menolak hujan,” kata Supadi.
Ajian tolak hujan pada dasarnya melakukan permohonan kepada Sang Hyang Batara Indra, tegas Supadi menjelaskan, di kalangan masyarakat jawa kuno sebelum masuknya agama di tanah Jawa, masyarakat Jawa telah mengenal penguasa alam yang menjadi manifestasi dari ke Esaan Sang Hyang Tunggal.
Sang Hyang Batara Indra menguasai angkasa raya sedangkan Sang Hyang Hananta Boga menguasai bumi pertiwi, dan Batara Surya yang menguasai matahari sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia.
Ilmu tolak hujan ini merupakan ilmu kuno yang mengacu pada kitab kitab kuno yang tertulis pada daun lontar. Diperlukan laku yang tekun untuk bisa memiliki ilmu tolak hujan ini, dengan melakukan puasa mutih selama tiga hari tiga malam ditambah lagi dengan melakukan ngebleng puasa dan harus tidur di atas pohon, seseorang bisa memiliki ilmu kesaktian ini.
Tetapi apabila kesulitan pada saat menjalani laku ngebleng tidur di atas pohon, seseorang bisa menjalani tidur di langit langit rumah dengan memakai papan kayu sebagai alas penyangga.
Pangucap atau mantera ilmu kuno ini tertuju kepada Sang Hyang Batara Indra, penguasa bapa angkasa raya. Namun ilmu ini pada saat akan dipatrapkan, terlebih dulu harus menggunakan beberapa piranti sebagai satu simbol penolak atau penyingkir hujan. Beberapa sesaji tersebut diantaranya adalah selembar daun pisang raja yang di simbolkan sebagai payung, suket grinting, kerikil dan janur kuning. Seluruh sesaji ini di rangkai menjadi satu kemudian di ikat dengan menggunakan janur lantas di letakan di atas atap rumah di tutup dengan selembar daun pisang raja.
“Cara menutup ikatan piranti dengan menggunakan daun pisang harus tepat, serat daun hijau di pasang dengan posisi menelungkup agar kekuatan ilmu tolak hujan sempurna,” papar Supadi.
Menurutnya, daun pisang pada saat dipergunakan untuk menutup gagang pelepah daun harus pada posisi di bawah, apabila terbalik maka hujan akan menyingkir sangat jauh dari tempat yang punya hajat, sekaligus area menyingkirkan hujan akan bertambah semakin luas. Tetapi apabila posisi gagang pelepah diletakan di bawah, maka hanya satu kampung atau dusun yang tak terkena dampak hujan.
Hal ini pernah terjadi pada saat Supadi tanpa di sengaja meletakan daun pisang raja dengan posisi terbalik. Satu desa yang sebelumnya dipenuhi cuaca mendung berubah menjadi terang benderang, mendung yang semula menggelayut berubah menjadi cerah. Sedangkan desa tetangga yang sebelumnya terlihat cerah berubah di terpa hujan yang sangat deras sekali.
“Intisari dari ilmu ini adalah bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam, dengan menyatu bersama alam seluruh kehidupan akan lestari berdampingan. Sehingga apa yang di mohon kepada Sang Maha Pencipta akan bisa dikabulkan, tak terkecuali menyingkirkan hujan,” demikian Supadi.judiantoro