Rabu, 17 Mei 2017

PAWANG HUJAN, ANTARA MITOS DAN FAKTA (Ditulis oleh : Ki Sapujagad Tirtamaya)



PAWANG HUJAN, ANTARA MITOS DAN FAKTA
(Ditulis oleh : Ki Sapujagad Tirtamaya)

            Pawang hujan berarti seseorang yang dikasih kelebihan oleh Allah untuk mengendalikan cuaca (hujan) untuk digeser atau dipindahkan ke tempat lain yang jauh karena ada permintaan dari pemilik hajat yang menginginkan agar acara yang digelar di lapangan terbuka menjadi lancar. Ilmu pawang sebenarnya sudah berkembang sejak jaman kerajaan terbukti ditemukan makam Ki Sapujagad dan ki Sapuangin di Trowulan. Beliau merupakan orang kepercayaan Raja Majapahit yang pertama Raden Wijaya. Di musim hujan tentu saja pihak kerajaan akan sangat terbantu dengan adanya pawang hujan karena upacara keagamaan seperti hari galungan/hari suci umat hindu atau ngaben (pembakaran mayat) pelaksanaannya menjadi lancar tanpa ada gangguan cuaca. Sapujagad yang berarti ilmu memecah awan sedangkan Sapu angin berarti menyingkirkan awan hitam ke segala penjuru dengan kekuatan angin. Ilmu ini tentu saja ada khodamnya yang membantu hajat manusia. Dan tidak dapat digunakan sembarangan hanya bersifat membantu dalam kondisi tertentu.
     Yang namanya ilmu takkan pernah hilang atau musnah. Walaupun pemilik ilmu telah meninggal ilmu itu tetap masih ada. Ilmu bersifat ghaib, ia tidak dapat diraba, dilihat oleh pancaindra. Ilmu tersebut akan diberikan kepada manusia yang bersungguh-sungguh dan tentu saja amanah dan tidak sombong. Dalam mendapatkan ilmu tentu ada proses belajar yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Manusia diberi akal untuk berpikir, ia akan selalu mencari jawaban bagaimana manusia dalam melakukan acara keagamaan yang diadakan di alam terbuka aman dari gangguan hujan sehingga ia akan berusaha untuk mencari jawaban tersebut. Bagaimana cara mendapatkan ilmu untuk menyingkirkan hujan. Jaman dahulu seseorang (mpu) yang ingin mendapatkan ilmu pawang hujan tentu melakukan proses belajar tentang alam, memahami tentang alam, ia akan bersemedi dan berpuasa memohon kepada Tuhan atau pemilik alam semesta agar diberi ilmu untuk menyingkirkan hujan.
            Jawaban yang diterima seseorang (mpu) untuk mendapatkan ilmu menyingkirkan hujan tentu bermacam-macam. Ada yang diperintahkan untuk membuat keris atau tombak. Melalui media tersebut akan diisi kekuatan adi kodrati tentang menyingkirkan hujan atau angin puting beliung. Dan tentu saja proses pembuatan pusaka tersebut membutuhkan waktu yang lama dan diiringi dengan puji dan puja kepada Tuhan YME agar benda tersebut diberi kekuatan untuk menyingkirkan hujan. Pusaka tersebut ditempatkan di lokasi acara maka gangguan hujan akan menyingkir dengan sendirinya. Ada juga yang menggunakan Lombok merah, bawang merah dan bawang putih. Tentu saja media ini kalau dipandang manusia yang umum menjadi lelucon belaka padahal untuk mendapatkan jawaban tersebut membutuhkan waktu yang lama. Sebetulnya alam sudah menyediakan perangkat buah atau tumbuhan yang dapat menetralisir kekuatan jahat seperti daun kelor dapat menetralisir ilmu yang dimiliki manusia menjadi hilang sehingga dipermudah kematiannya, ada pohon bambu yang dapat menahan kekuatan hitam yang dapat menyerang manusia. Allah sangat welas asih pada manusia sehingga Dia menyiapkan segala sesuatu untuk kenyamanan manusia sebagai kalifah di muka bumi.
       Mpu pemilik ilmu sapu jagad dan sapu angin menggunakan media Lombok merah, bawang merah dan bawang putih yang ditusuk dengan lidi untuk menyingkirkan hujan. Tentu saja mendapatkan ilmu ini atas petunjuk Allah SWT. Ada perjanjian ghaib antara manusia (mpu) dan petugas pengiring awan hitam bisa disebut malaikat atau jin. Apabila ada manusia menggelar suatu hajat dan memasang media tersebut maka hujan akan menyingkir dengan sendirinya. Media tersebut sebagai tanda bahwa di wilayah tersebut ada kegiatan yang banyak mengundang kehadiran manusia. Tapi tidak semua manusia diperbolehkan menggunakan ilmu tersebut harus ada guru yang membimbingnya untuk mendapatkan ijasah atau dalam bahasa kerennya sertifikat menyingkirkan hujan.
     Ilmu merupakan sarana untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ilmu tidak datang dengan sendirinya dan anda harus berusaha keras untuk memperolehnya. Ilmu juga sarana pembuka pintu keajaiban untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. “Wahai golongan jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintas) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Q.S. ar Rahman 155) ayat 33. Allah memerintahkan golongan jin dan manusia untuk menembus (melintasi) ke penjuru langit dan bumi, arti perintah Allah itu hanya sekedar tantangan Allah untuk menguji dan melemahkan jin dan manusia. Jika mereka kuasa untuk keluar penjuru langit dan bumi dan semacamnya itu hanya ketentuan dan kekuasaan dari Allah SWT yaitu kuasa Allah untuk memberikan ilmuNya pada hamba yang dikehendakiNya. Mereka pun tidak mampu menembus (melintasi) kecuali dengan kekuatan dan mereka tidak mempunyai kekuatan untuk menembus penjuru langit dan bumi dan juga mereka tidak kuasa jika Allah tidak memberikan ilmuNya kepada mereka.
        Manusia diwajibkan untuk berusaha/ikhtiar dalam memenuhi keinginannya. Apabila manusia mempunyai hajat dengan mendatangkan orang banyak tentu yang punya hajat berpikir bagaimana para undangannya nyaman dari gangguan cuaca seperti hujan atau angin besar dan acara yang digelar menjadi lancar. Apalagi acara digelar di luar terbuka dan musim hujan. Sosok pawang hujan sangat diperlukan untuk membantu pemilik hajat agar keinginannya terkabul, tentu saja ini semua atas ridho Allah SWT.
        Coba anda bayangkan, anda mendapat undangan hajatan tiba-tiba mau berangkat menggunakan sepeda motor tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Tentu anda akan menunda perjalanan, anda menunggu hujan reda lalu bagaimana kalau hujan tidak reda. Kalau anda masih bersemangat tentu saja menggunakan jas hujan, media anti hujan. Lalu bagaimana dengan pemilik hajat atau tamu yang sudah hadir di lokasi tiba-tiba hujan deras. Tentu saja mereka akan berlarian kesana kemari untuk mencari tempat berteduh. Dan kondisi ini tentu saja tidak menyenangkan sehingga acara menjadi kacau balau. Tenda yang dipasang dengan megah akan berantakan. Biaya mahal yang dikeluarkan akan menjadi sia-sia.
        Ilmu pawang hujan tergolong sangat tua dan sudah ada sebelum jaman para wali. Dan ilmu ini populer semenjak para wali syiar Islam di tanah Jawa. Sesungguhnya perbuatan pawang hujan hanya melakukan usaha atau ikhtiar semata sebab manusia pada hakekatnya tidak mempunyai otoritas dalam ikut campur urusan Allah. Menurut istilah dalam mitos Islam apa yang dilakukan pawang hujan hanya merupakan hukum wadi jadi pada hakekatnya seorang pawang hujan tidak mempunyai kuasa apapun. Sejatinya pawang hujan bukan menghentikan hujan akan tetapi mengalihkan hujan ke tempat lain seperti gunung, lembah, laut atau hutan. Hal ini dilakukan karena ada hajat atau perayaan penting. Dan untuk sementara waktu hujan dialihkan ke tempat lain. Konon menurut masyarakat yang hidup di masa lalu untuk meminta turunnya hujan tidak jarang menggunakan tumbal darah  manusia. Hal ini masih sering terjadi pada saat Syech Maulana Malik Ibrahim melakukan syiar Islam di tanah Jawa. Melihat keadaan ini beliau memberi nasehat pada mereka untuk tidak lagi melakukan tumbal manusia. Kemudian beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah. Memohon agar diturunkan hujan yang penuh rahmat di tempat tersebut. Tak berapa lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Melihat kejadian itu masyarakat kemudian menjadi pengikut setia Syech Maulana Malik Ibrahim dan mau belajar tentang Islam. Keanehan mendatangkan hujan juga dimiliki oleh Bung Karno, sang proklamator. Pada saat itu pulau dewata tertimpa kekeringan yang berkepanjangan. Pada saat Bung Karno datang ke Pulau Dewata beberapa saat kemudian terlihat awan hitam beriringan dan hujan turun dengan derasnya sehingga masyarakat bali percaya bahwa bung karno merupakan titisan dewa Wisnu, yang memiliki kekaromahan mendatangkan hujan.
        Ada beberapa pendapat antara pengamat dan pelaku pawang hujan, perbedaan pendapat adalah  hal yang lumrah atau biasa. Manusia mempunyai pendapat berdasarkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki, setiap manusia tentu mempunyai alur pemikiran yang berbeda karena kebenaran yang mutlak hanya milik Allah semata. Ada seorang ustad yang bernama Abu Jundi (sumber AAChannel), menurutnya para pawang hujan adalah pendusta dan tukang bohong belaka. Tidak ada manusia yang sanggup mendatangkan hujan atau menyingkirkan hujan. Hujan hanya dapat dipindahkan oleh petugasnya yaitu malaikat yang dibekali cambuk api untuk menggiring awan kemana Allah perintahkan. Dan tentu saja malaikat taat pada perintah Allah mana mungkin malaikat mau diperintah oleh pawang hujan. Kalau pawang hujan berdoa agar hujan dialihkan ke tempat lain itu dan memang hasilnya tidak hujan, itu hanya kebetulan saja. Sampai saat ini belum ada master sihir atau pawang hujan yang sanggup mendatangkan hujan atau menyingkirkan hujan.
            Pelaku pawang hujan tentu mempunyai pendapat lain. Pawang hujan NurSyifa dari Jakarta. Saat musim hujan pawang hujan banyak dicari. Saat hujan turun tiada henti peran pawang hujan bertanggung jawab menghentikan hujan agar hajat menjadi sukses. Hujan dalam Islam berarti Mator yaitu turun dari langit berupa air atau batu. Seperti firman Allah,”Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui,” (Q.S. Al Baqaroh :22). Bagaimanapun hujan sebagai rahmat atau azab, semua itu atas kehendak Allah meskipun hujan sebagai rahmat umat manusia boleh mencegah datangnya hujan. Takdir itu dapat dirubah dengan doa. Sholat Istiqoh, sholat meminta hujan dan menyingkirkan hujan. Ekie Setiawan, pawang hujan senior dari NurSyifa berpendapat bahwa awan yang menggumpal dipecahkan terlebih dahulu. Sebelum melaksanakan memindahkan hujan, pawang hujan akan melaksanakan sholat hajat lalu bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, ucapan sholawat tidak terhitung banyaknya dan harus diucapkan hingga pelaksanaan selesai. Tidak ada ritual bunga atau batu bertuah. Para pawang hujan hanya mengandalkan doa dan setiap hari berzikir sholawat sebanyak 12.000 kali.
            Tiga hari sebelum acara berlangsung, pawang hujan harus berpuasa setelah itu sang pawang memeriksa keadaan di luar yaitu memeriksa arah angin berhembus melalui telapak tangan. Setelah mengetahui kemana arah angin berhembus baru awan mulai disibak dengan telapak tangan. Pawang hujan bertugas hanya menyingkirkan hujan bukan menghentikan hujan. Memindahkannya pun tidak boleh sembarangan harus ke gunung, bukit atau hutan. Intinya tidak boleh memberikan kemudaratan kepada manusia. Manusia berusaha, Allah jualah yang menentukan. Bila hujan tetap turun, sesungguhnya itu berkah Allah yang berikan.
            Muslimin Suparman atau biasa dipanggil Pak de Mus berumur 58 tahun, domisili Jakarta namun asli Surabaya berprofesi sebagai pawang tidak hujan selama 13 tahun. Pawang hujan hanya memindahkan hujan dan tidak membuat hujan atau menghentikan hujan, hanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami hanya sebagai manusia biasa hanya memindahkan hujan yang mau turun di satu titik lokasi acara, kami pindahkan ke lokasi lain. Sebelum hari H, apabila ada yang meminta jasa kami, tiga hari atau paling lambat satu hari, kami harus mengadakan ritual khusus secara Islam yaitu sholat tahajut dan juga secara adat Jawa yaitu dengan semadi memohon pada Tuhan dan dilakukan di tempat khusus. Kami mempunyai beberapa pusaka peninggalan leluhur yang membantu pekerjaan sebagai pawang hujan. Salah satunya keris pusaka andalan kami yang bernama Ki Andulu, yang berisi 19 khodam penunggu. Pusaka ini merupakan peninggalan kerajaan Mataram. Perawatannya cukup diolesi minyak wangi dan diasapi dengan asap dupa. Ibaratnya pekerja sebelum bekerja ongkosnya harus dibayar terlebih dahulu. Pusaka tersebut juga dibacakan doa-doa khusus agar penunggunya nyaman dan mau diajak kerja sama. Tata cara demikian semua merupakan kepercayaan Jawa yang telah diajarkan kepada kami secara turun temurun.
            Dalam pelaksanaan, media tersebut kami arahkan untuk menggeser awan hitam mengikuti ke mana angin berhembus misalnya arah angin dari barat maka kami bawa ke timur. Kami tidak mungkin berlawanan dengan angin, hanya mengikuti saja. Setelah proses tersebut selesai kemudian media kami taruh di tanah yang telah kami isi dengan tetap memperhatikan arah angin dan awan yang terkumpul. Kami juga meminta ijin pada penunggu lokasi biasanya wilayah berbeda-beda penunggu ghoibnya. Ibaratnya kami sebagai tamu yang sedang mengadakan acara di wilayahnya tentu harus meminta ijin pada penguasa ghaib wilayah itu. Demikian juga yang diajarkan oleh leluhur kami. Walaupun kami bisa memerintahkan pekerja ghoib untuk menggeser atau memindahkan hujan ke tempat lain namun tetap saja terjadi hujan maka semua itu atas kuasa Tuhan. Kami sebagai manusia biasa hanya bisa berusaha dan berdoa. Kami tidak berani menjamin 100%  acara yang kami tanggani aman dari guyuran hujan apalagi pada musim hujan.
            Indonesia yang kaya dengan keragaman adat isitadat, budaya, alam, flora, fauna dan ilmu ghoib hendaknya perlu dilestarikan oleh generasi muda. Orang Jawa, Sumatra, Kalimantan, Maluku atau Papua tentu mempunyai tata cara sendiri dalam menangkal hujan. Semua ilmu itu baik dan bermanfaat tergantung manusia yang menggunakannya. Ilmu dapat digunakan untuk mencelakakan orang lain atau membantu kesukaran orang lain. Sesungguhnya orang barat juga masih bingung bila melihat fenomena pawang hujan. Mereka memang telah menciptakan alat untuk memecah awan agar tidak terjadi hujan namun penggunaan peralatan tersebut masih sangat mahal. Mereka masih penasaran bagaimana seorang manusia Indonesia sanggup menggeser awan agar tidak terjadi hujan dengan media yang murah dan sederhana. Makanya sebagai bangsa Indonesia kita harus percaya diri akan kemampuan diri sendiri. Kita akan jaya kalau masih mau mempelajari ilmu warisan para leluhur. Semoga… salam budaya.